subscription

Etherchannel layer 3

Etherchannel layer 3 sendiri tidak bisa digunakan jika perangkat nya tidak mendukung layer 3, untuk itu kita harus menggunakan Multi Layer Switch. Untuk percobaan konfigurasinya kita akan menggunakan layout seperti dibawah ini


Untuk konfigurasi MLS agak berbeda dengan lab sebelumnya, karena kita harus menonaktifkan dulu fungsi layer 2 karena MLS ini defaultnya masih layer 2, untuk menonaktifkan menggunakan perintah “no switchport” setelah memasukkan interface. Untuk konfigurasinya seperti dibawah ini.





Lalu di tampilan konfigurasi di atas kita tambahkan ip address untuk pc client, selanjutnya kita harus memasukkan interface yang terhubung langsung dengan switch lawan pada etherchannel dengan mode on karena menggunakan layer 3, seperti dibawah ini, tetapi jangan lupa mematikan layer 2 nya menggunakan perintah “no switchport”, seperti dibawah ini.




Langkah diatas dilakukan di kedua switch, sekarang tinggal konfigurasi ip address di interface port channel yang sudah dibuat. 



Selanjutnya kita coba konfigurasi dengan mencoba ping antar pc tapi sebelum itu kita harus tambahkan ip dulu di pc secara static dengan satu segment saat konfigurasi ip address di interface fa0/4 di kedua switch.


Ternyata belum bisa ping karena belum di routing, lalu sekarang coba kita routing dulu, seperti dibawah ini.




Setelah itu lalu kita coba ping lagi.


Ternyata sudah bisa ping, lalu kita coba test lagi dengan traceroute ip client lawan.




Terlihat bahwa kita tracert telah melewati ip etherchannel, tandanya konfigurasi kita telan berhasil.



Etherchannel PagP


Etherchannel Pagp atau Port Aggregation Protocol ini berbeda dengan lab sebelumnya yang membahas tentang Etherchannel LACP. Perbedaannya terletak pada vendor yang bisa menggunakan fitur tersebut, jika Etherchannel LACP bisa digunakan pada semua vendor sementara Etherchannel PagP ini hanya dimiliki oleh perangkat Cisco saja (Cisco Proprietary).
Untuk konfigurasinya kita akan menggunakan layout seperti dibawah ini.



Sebelumnya jika di LACP mode yang digunakan yaitu Active dan Passive, jika di PagP mode yang digunakan yaitu mode Desirable dan Auto. Seperti terlihat pada konfigurasi yang kita lakukan dibawah ini.





Sama seperti di LACP bahwa di PagP ini mode yang bisa digunakan yaitu mode desirable dengan auto atau sebaliknya dan lainya dengan kedua switch menggunakan mode desirable serta channel group yang digunakan harus sama.

Selanjutnya kita bisa mengecek dengan perintah “show ip etherchannel summary”, seperti terlihat dibawah ini.




Terlihat bahwa protocol yang digunakan yaitu PagP dengan simbol SU yang berarti S(layer 2) dan U(sedang digunakan). Lalu bisa dilihat di layout semua port akan menyala, seperti terlihat dibawah ini.



Etherchannel LACP


Jika sebelumnya diketahui bahwa jika kita menggunakan dua switch yang memiliki lebih dari satu link , maka STP akan memblok beberapa link agar hanya dijinkan satu link saja yang bisa aktif, Nah dengan adanya fitur Ethernet LACP ini kita bisa membuat agar semua link tersebut menjadi aktif, konsepnya adalah menggabungkan semua link yang menghubungkan kedua switch tersebut, sehingga semua link tersebut akan bergabung menjadi satu link saja.

Konfigurasi Etherchannel ini ada beberapa protocol yang dapat digunakan untuk konfigurasi, seperti dibawah ini:
        LACP (Open Standart)
        PAGP (Cisco Proprietary)
        Etherchannel Layer 3
Dapt disimpulkan bahwa ada tiga protocol yang bisa digunakan untuk konfigurasi Etherchannel, akan tetapi sesuai Lab kali ini, kita hanya akan membahas konfigurasi Etherchannel dengan menggunakan protocol LACP, layout nya seperti dibawah ini.



terlihat bahwa masih ada port yang belum aktif, untuk mengaktifkannya kita dapat menggunakan perintah seperti berikut ini.



Jika diperhatikan mode yang digunakan antara switch0 dengan switch itu berbeda yaitu mode active dan mode passive, ini bertujuan agar etherchannel bisa diaktifkan. Seperti tabel dibawah ini yang akan menunjukkan pertemuan antara mode dalam etherchannel.
Mode
Active
Passive
Active
Yes
Yes
Passive
Yes
No

Setelah dikonfigurasikan etherchannel otomatis semua port akan menyala, seperti terlihat dibawah ini.



Lalu kita bisa mengecek status dari etherchannel tersebut menggunakan perintah “do show etherchannel summary”, seperti terlihat dibawah ini.



Lalu bagaimana jika kita menggunakan mode etherchannel yang sama?, mari kita bersama-sama membuktikan dengan konfigurasi seperti dibawah ini, kita rubah switch pertama menjadi passive juga seperti switch 2

Setelah itu jika dilihat pada layout dibawah ini switch port nya ada yang tidak menyala.


Ini menandakan bahwa etherchannel bisa diaktifkan jika hanya kedua switch menerapkan mode active berpasangan dengan passive dan kedua switch sama-sama menerapkan mode active.

Spanning Tree Portfast


Sebelumnya secara default port pada switch akan melewati beberapa mode sebelum paket dapat melewati switch yaitu:
Bloking (20s)
Listening (15)
Learning (15)

Jika dilihat dari tabel diatas, paket kira-kira membutuhkan waktu sebesar 50 detik untuk melewati switch, ini tentunya waktu yang sangat lama tetapi sebelum waktu tersebut switch juga tidak akan bisa digunakan untuk mengirim paket, jadi kita harus sabar menunggu sampai waktu tersebut habis, karena keluhan waktu yang lama tersebut muncul lah fitur spanning tree port fast, dimana kita dapat menggunakan untuk mempercepat proses tersebut. Akan tetapi spanning tree portfast ini hanya bisa diaktifkan pada interface yang terhubung dengan client/server (End Device).

Layout yang digunakan kali ini seperti berikut ini.



Untuk konfigurasinya seperti dibawah ini.



Terlihat bahwa kita tidak bisa mengkonfigurasi portfast sebelum interface tersebut dalam mode trunk, jadi kita harus mengkonfigurasi trunk dulu, baru setelah itu portfast, seperti dibawah ini.



Jika sudah sekarang kita coba untuk melepas dan kembali memasang kabel nya, apakah dengan cepat bisa langsung terhubung.


Terlihat setelah dipasang langsung berwarna hijau, jadi kesimpulanya setelah kita konfigurasi portfast, kita tidak perlu meunggu lagi dan bisa langsung terhubung.

Per Vlan Spanning Tree Protocol


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa switch cisco akan memilih satu switch sebagai root bridge , selain itu setiap vlan juga akan memilih port yang akan diblokir.
Untuk membuktikannya mari kita konfigurasi menggunakan topologi berikut.


Untuk membuktikan bahwa vlan juga mengatur tentang port yang akan diblokir, pertama yang harus dilakukan adalah mengkonfigurasi vlan di masing-masing switch seperti berikut ini.

Jika sudah mengatur vlan di masing-masing switch lalu kita lihat dulu status dari switch yang mempunyai port yang mati dengan yang tidak mempunya port yang mati.





Terlihat bahwa yang atas terdapat port mati dengan tanda bukan root bridge, lalu kali ini saya akan mencoba membuat yang sebelumnya bukan root bridge menjadi root bridge, seperti berikut ini.

Terlihat bahwa saya telah merubah priority dari interface vlan 10, sekarang langkah selanjutnya adalah memasukkan semua port ke vlan 10, seperti berikut ini.

Untuk ini lakukan di semua switch, sedangkan priority tadi hanya di switch yang memiliki port mati, jika sudah lihat topologi kembali.

Terlihat bahwa posisi port yang mati telah berpindah, tandanya konfigurasi kita untuk memindahkan status port dengan vlan telah berhasil.

Spanning Tree Protocol Switch


Adalah sebuah protocol yang digunakan oleh switch untuk menghindari terjadinya looping pada jaringan. Untuk menghindari looping switch telah ditambahkan protocol STP dimana ini akan memblok salah satu port sehingga hanya akan ada satu port saja yang akan digunakan dan looping pun akan terhindarkan.


Untuk konfigurasinya menggunakan layout seperti dibawah ini.


Terlihat bahwa ada 1 port yang berwarna oranye, itu karena port tersebut diblock, seperti penjelasan diatas, sekarang kita lihat setatus dari masing-masing switch.


Terlihat bahwa 1 (fastethernet0/1) disini berarti port yang menyala adalah port tersebut, sedangkan port lainya yang menuju switch 1 akan mati.

Ini menandakan bahwa switch ini merupakan root bridge dan switch ini tidak akan memiliki port yang mati. Untuk kali ini kita akan coba merubah dari switch 1 yang tadinya bukan root bridge menjadi root bridge, konfigurasinya seperti dibawah ini.


Terlihat bahwa kita tidak bisa mengatur priority sesuka hati, sudah ada ketentuan priority berapa saja yang diperbolehkan, ingat semakin kecil priority maka akan semakin besar peluang untuk dijadikan root bridge, sekarang kita ubah priority nya, seperti berikut.


Lalu selanjutnya kita lihat setatus priority nya seperti dibawah ini.


Terlihat yang tadinya SW1 itu bukan root bridge, sekarang telah menjadi root bridge, kita juga bisa lihat layout nya sekali lagi.

Terlihat posisi yang berwarna oranye pun pindah ke SW2, tandanya root bridge telah berpindah tempat dan konfigurasinya berhasil.

Security Port Switch


Digunakan untuk membatasi peragkat yang diperbolehkan untuk mengakses salah satu port pada switch.

Untuk langkah-langkahnya seperti berikut:
        Memilih mode Access/Trunk, tetapi tidak boleh Dynamic
        Mengaktifkan port security
        Menambahkan/memasukkan Mac Address
        Menentukan jenis security
Jika anda sudah faham tentang langkah-langkah ini, lalu sekarang dilanjut dengan dengan konfigurasi, layout yang digunakan pada materi ini seperti dibawah ini.


Langkah pertama pastikan pc sudah di set ip secara static sesuai dengan layout yang sudah ditentukan, seperti dibawah ini.


Jika sudah sekarang saat nya untuk mengkonfigurasi port security, untuk konfigurasinya seperti dibawah ini.


Keterangan:

  • int fa0/1: masuk ke interface fa0/1
  • switchport mode access: merubah mode port menjadi access
  • switchport port-security: mengaktifkan port secuirty
  • switchport port-security mac-address sticky: Mencatat mac address yang terkoneksi ke port secara Dynamic. 
  • switchport port-security violation shutdown/restrick/protect: digunakan untuk memilih jenis security yaitu: shutdown/restrick/protect.
Lakukan juga pada interface lainya tetapi dengan violation yang berbeda-beda.



Selanjutnya kita harus melakukan ping agar mac-address dari pc client bisa tercatat, ini dilakukan di semua pc, seperti dibawah ini.


untuk mengecek apakah mac-address sudah tercatat atau belum, bisa menggunakan perintah seperti dibawah ini.


Terlihat bahwa masing-masing interface sudah muncul mac-address nya, sekarang waktunya untuk merubah penempatan port, dari yang tadinya pakai port 1 ke port3, port 3 ke port 2, port 2 ke port 1.


Terlihat port nya berwarna oranye tandanya baru dirubah, kemudian langkah selanjutnya lakukan ping lagi agar port switch bisa melakukan pencocokan mac-address.


Terlihat tidak bisa ping. karena memang jika sudah diaktifkan port security maka jika clinet mac-address nya tidak cocok, segala koneksi akan diblokir. Jika sudah melakukan ping dari semua pc client, sekarang coba lihat layoutnya sekali lagi.

Terlihat ada port yang berwarna merah, itu karena port-security nya tadi dikasih shutdown, jadi saat mac-address tidak cocok, otomatis port tersebut akan mati, agar lebih faham berikut penjelasan dari masing-masing violation.

  • Shutdown: port otomatis akan langsung shutdown jika ada perbedaaan mac-address dengan yang dikonfigurasi.

  • Protect: port tidak akan mati tetapi menolak semua paket yang dikirimkan client yang terhubung ke port jika mendeteksi perbedaan mac address yang dikonfigurasi.

  • Restrict: hampir sama dengan protect, hanya saja tidak hanya menolak tetapi akan mengirimkan paket SNMP trap yang akan dikirimkan ke syslog, sehingga admin akan mengetahui bahwa ada client lain yang masuk.